Ditulis pada tanggal 1 Juli 2009, pada kategori Berita

Teknologi informasi (TI) mampu mengubah paradigma proses belajar mengajar selama ini dan membawa para siswa untuk terlibat lebih aktif didalamnya. Dalam proses tersebut, guru tidak lagi memiliki peran sentral melainkan hanya sebagai fasilitator dan pendamping. Hal ini dikatakan Tom P. Abeles, PhD (President Sagacity, Inc. Minneapolis, USA) dalam diskusi yang membahas “Teknologi Informasi dalam Dunia Pendidikan”. Menurutnya, model pendidikan ini juga sangat memungkinkan pemerataan pendidikan untuk semua kalangan. Beberapa perguruan tinggi ternama seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Cambridge University menurutnya bahkan telah membuka sebuah program yang diberi nama Open Education Resources (OER) dengan dukungan United Nations Education, Science and Culture Organization (UNESCO). Program ini diterangkannya diperuntukkan bagi negara berkembang seperti di Asia dan Afrika untuk membuka kesempatam pendidikan bagi seluruh umat manusia. “Program ini tidak memungut biaya untuk akses hasil penelitian, bahan-bahan perpustakaan serta buku”, ujar Abeles.
Lebih jauh ia menjelaskan mengenai esensi sebuah proses pendidikan. Menurutnya, pendidikan harus mampu mengangkat potensi setiap peserta didik yang bahkan masih terpendam untuk kemudian diolah lebih jauh. Berkaitan dengan hal tersebut, siswa berhak mengetahui mengapa harus belajar dan apa yang harus dipelajari. “Hal ini penting dalam hubungan guru dan murid”, kata dia. Proses pendidikan, menurutnya juga harus mampu menumbuhkan minat siswa untuk belajar berbagai ilmu dan pengetahuan.
Teknologi Informasi
TI menurut Abeles mampu membuat revolusi dalam proses pendidikan. Dengan TI yang lebih mudah diakses, menurutnya akan membuat pendidikan lebih luwes dan fleksibel. Di Amerika, diterangkannya, pembelajaran dengan memanfaatkan TI telah marak dimanfaatkan meskipun tidak mudah dalam mengawalinya. Berbagai bidang ilmu seperti keteknikan, ilmu-ilmu sosial, dll telah banyak menggunakan TI. Dari hasil pengamatannya selama lebih 30 tahun sebagai konsultan dan akademisi, ia menyoroti pula beberapa kelemahan model pembelajaran dengan memanfaatkan TI. “Hal-hal teknis seperti kecurangan siswa dalam mengerjakan tugas dan ujian sering terjadi”, kata dia. Selain itu, ia juga menuturkan bahwa pendidikan dengan menggunakan sarana TI hanya menekankan aspek kognitif dan psikomotorik saja, kurang menyentuh domain afeksi.
Dalam kesempatan tanya jawab, kepada salah seorang penanya ia menjelaskan bahwa teknologi adalah sebuah sarana untuk mengatur sistem. “Sebagai representasi sistem, output yang dihasilkan menggunakan TI akan buruk jika sistemnya buruk dan akan baik jika sistemnya baik”, tutur Abeles. Hal ini berhubungan erat dengan wetware (pemikiran), sebagai salah satu komponen terpenting TI selain hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak) yang dipaparkan diawal presentasinya

disadur dari :www.prasetya.brawijaya.ac.id