Ditulis pada tanggal 21 Desember 2008, pada kategori Berita

Dalam ajang Agroindustrial Paper Competitiom yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian IPB, justru mahasiswa dari Fakultas Teknik. Tidak tanggung-tanggung, dalam kesempatan tersebut, sekelompok mahasiswa dari FT UB berhasil menjadi Juara II Mereka adalah Ach Reza Alhadig, Daniel Daulat, dan Kharisma Kumbara Karta (mahasiswa FT UB angkatan 2004) dengan makalahnya “Sistem Identifikasi Umbi Kentang Secara Online Sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk Meningkatkan Ekspor Kentang”. Karya-karya tersebut mereka presentasikan di hadapam dewan juri yang terdiri dari Ir Prayoga Suryadarma MT (Dosen Teknologi Industri Pertanian), Imam Paryanto MEng (peneliti madya BPPT), dan Drs Wawas Swathatafrijiah MSc (Kepala Balai Sentra Teknologi Polimer), dengan kriteria penilaian: kesesuaian presentasi dengan isi makalah, presentasi (gerak tubuh, intonasi dan diksi), pemahaman materi, serta content materi presentasi. Atas prestasi tersebut, masing-masing juara berhak menerima uang tunai beserta penghargaan, masing-masing Rp 3 Juta, Rp 2 Juta dan Rp 1 Juta untuk juara I, II dan III.

Sistem Identifikasi Umbi Kentang Online

Ketiga mahasiswa Teknik Elektro UB juara kedua kompetisi, mewakili rekan-rekannya menyatakan, melalui penelitian mereka berupaya agar produk pertanian lokal Indonesia dapat menembus pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun global dengan standarisasi secara online. Sistem standarisasi melalui Standar Nasional Indonesia (SNI), dalam karya tersebut, mereka buat secara online melibatkan beberapa perangkat lunak yaitu Apache, Bahasa C, Delphi, dan PHP. Sementara untuk perangkat keras, mereka menggunakan sensor berat, microcontroller ATMega64 serta HP dengan Bluetooth dan konfigurasi GPRS. Perangkat ini, menurut Daniel untuk sementara hanya diperuntukkan bagi umbi kentang. “Kita bisa mengubah peruntukannya untuk produk yang lain dengan mengubah pengolahan citra digitalnya melalui Delphi”, ujar Daniel. Beberapa parameter SNI yang ada dalam rancangan ini adalah keseragaman berat, keseragaman warna, tunas yang tidak terlalu banyak, kotoran permukaan yang sedikit, serta sedikitnya permukaan kulit yang pecah. Untuk rancangan ini, mereka mengaku menganggarkan dana sekitar Rp 10.010.000. “Ajang ini merupakan paper competition, sehingga kesemuanya baru sebatas ide. Untuk realisasinya kami akan merekrut para junior agar melanjutkan, karena kami sebentar lagi lulus. Justru di sinilah letak tantangannya, yaitu merealisasi program dengan sampling kentang”, kata Daniel. Ide ini, menurut mereka merupakan pengembangan dari mata kuliah yang pernah diperoleh, yaitu pengolahan citra digital dan pengenalan pola jaringan sistem saraf tiruan. Lebih lanjut mereka menyatakan, pemrograman seperti ini baru dikenal di Cina yang juga berupa sistem web online dengan dua parameter saja yaitu berat dan masa jual. Untuk produk kentangnya, tim ini mengaku baru melakukan survei di Malang Raya yaitu daerah Jurang Wali, Batu dan pasar-pasar tradisional. “Para petani di daerah tersebut belum mengenal SNI dan sejauh ini pemasaran kentang hanya berdasar pada ukuran dengan membedakannya menjadi tiga tingkatan kualitas yaitu kw 1, kw 2 dan kw 3″, kata Daniel. Akibatnya, menurut Daniel, petani pun menjual ke pengumpul dengan harga rendah, yaitu sekitar Rp 5500. “Daerah pengekspor umbi kentang yang terkenal di Indonesia baru Jambi”, tambahnya

dikutip dari : www.prasetya.brawijaya.ac.id