63 !

Ditulis pada tanggal 16 May 2019, oleh nggit_chan, pada kategori Tak Berkategori

Dalam rangka keterlibatan di era Industri 4.0 saat ini, Prodi Teknik Elektro S-1, ITN Malang mengundang Dr. Eng. Panca Mudjirahardjo, S.T.,M.T. (anggota riset group PSEEMRG) sebagai nara sumber di kuliah tamu di kampus II Karanglo. Kuliah tamu ini di pandu oleh Sekretaris Jurusan Teknik Elektro Dr. Eng. Komang Somawirata, dan diikuti oleh mahasiswa prodi tersebut kurang lebih 50 orang
Dalam kesempatan itu Panca membawakan presentasi dengan judul ‘Peluang dan tantangan Computer Vision di era Revolusi Teknologi 4.0’, sesuai dengan bidang risetnya. Karena salah satu unsur di Industri 4.0 adalah cognitive computing, dimana computer vision ada di dalamnya. Ada banyak peluang keterlibatan kita di era Industri 4.0 bagi Indonesia umumnya dan Malang khususnya. Antara lain diluncurkannya Satelit Nusantara (Peb. 2019) oleh PT PSN, disamping layanan broadbandnya 3 kali lebih cepat dari satelit konvensional, juga melayani 25 ribu desa terpencil yang selama ini tidak terlayani. Selanjutnya di Asia Tenggara saja, adopsi teknologi AI (artificial intelligent) mencapai 14% pada tahun 2018, atau meningkat 8% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. AI secara umum menggantikan pekerjaan yang terus-menerus dan dilakukan banyak orang. Sedang pekerjaan yang tak tereliminasi AI adalah pekerjaan yang bergantung pada kebaruan kreativitas, pengambilan keputusan strategis, pemikiran kritis, dan manipulasi fisik dalam situasi hidup atau mati. Jadi peran mahasiswa agar tetap eksis dan tidak tergantikan AI harus menguasai bidang-bidang yang tak tereliminasi tadi, terang Doktor alumni Kyushu Institute of Technology, Jepang. Peluang berikutnya adalah program kerjasama XL Axiata di UB, April 2019 kemarin, yaitu dengan program XL Future Leadears. Peluang yang menyentuh siswa SMA adalah adanya ektra kurikuler pemrograman berbasis Android. Dengan melihat peluang-peluang tersebut cukuplah kiranya kita siap untuk terlibat di era Industri 4.0. Dalam slidenya, Kaprodi S-2 TEUB ini menunjukkan hasil penelitiannya selama studi Doktoral dan saat ini, antara lain ábnormal motion detection’dan ‘head detection’ untuk monitoring ruangan cerdas. Disamping itu juga menampilkan beberapa produk anak negeri di bidang pertanian, alsintan, produksi BPP Mektan yang berbasis AI dan internet.

Setelah mengetahui peluang, maka tantangan yang harus dihadapi oleh para mahasiswa adalah merubah mindset bahwa tujuan belajar di Perguruan Tinggi adalah bukan hanya sekedar bisa ! bisa membuat, bisa menjalankan saja, tetapi harus ada ide pengembangan di dalamnya. Karena kalau sekedar bisa ! tidak perlu belajar ilmu-ilmu dasar (matematika, fisika dan sebagainya) tetapi cukup belajar dari google dan youtube saja. Tantangan lainnya bagi pelaku peneliti di kampus dan juga pemerintah adalah menumbuhkan perilaku inovasi dan realisasi / fabrikasi inovasi itu. Karena inovasi tidak sekedar penelitian dan hasilnya, namun berlanjut dan berujung pada komersialisasi. Negara kita akan kuat, maju dan mandiri bila hasil inovasi-inovasi tersebut diproduksi massal. Sesuai dengan isi debat cawapres 17 Maret 2019 kemarin, perlunya Badan Riset dan Investor Riset.

Di sesi tanya jawab, beberapa penanya menanyakan tentang dampak sosial, terutama pada tenaga kerja di era Industri 4.0, keamanan siber itu sendiri, perkembangan ATCS (area traffic control system), kemungkinan teralisasinya teknologi di film-film fiksi, dan kesiapan Indonesia untuk Industri 4.0 ini.

Di akhir presentasi, Panca menyerukan kepada peserta untuk tetap berperilaku sehat dengan rutin berolahraga, bukan berlama-lama berolahraga. Karena di era Industri 4.0 ini orang cenderung akan lebih banyak berhadapan dengan piranti komputer atau gadged, akibatnya aktivitas fisik berkurang. Untuk itu imbangi dengan berolahraga rutin setiap hari untuk menjaga kesehatan, ucap penggemar gowes, jogging dan membaca ini. (nggit_chan)