Single Post

Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB) menambah jajaran Guru Besarnya. Hari ini, Rabu, 22 Juli 2020, Prof Ir Hadi Suyono ST MT PhD IPU dikukuhkan di Gedung Widyaloka UB.

Pengukuhan Guru Besar ini hanya dihadiri oleh Rektor, Ketua dan Sekretaris Senat, Dekan Fakultas yang bersangkutan, serta keluarga profesor baru. Seluruh prosesi disiarkan secara Live Streaming Youtube Channel UBTV dan UB Radio.

Prof Hadi dikukuhkan sebagai Profesor berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 152763/MPK/KP/2019 terhitung sejak 1 Desember 2019, dalam Bidang Ilmu Rekayasa Sistem Daya dan Kecerdasan Buatan. Dengan demikian ia menjadi profesor aktif ke-15 FTUB, profesor aktif ke-187 di UB, dan menjadi profesor ke-264 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.

Pagi itu ia menyampaikan pidato ilmiah pengukuhan Profesor dengan judul Strategi Percepatan Integrasi Pembangkit Energi Baru dan Terbarukan pada Sistem Tenaga Listrik di Indonesia.

Pemilihan topik ini didasarkan pada pentingnya implementasi dan pengembangan injeksi dan integrasi pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) ke dalam sistem tenaga listrik yang sudah ada untuk mengurangi penggunaan pembangkit fosil yang telah memberikan dampak lingkungan yang kurang baik.

“Kebutuhan akan energi listrik baik di dunia global dan di Indonesia pada setiap tahunnya mengalami peningkatan seiring peningkatan dan perbaikan ekonomi global,” ucapnya.

Dia melanjutkan, secara global, konsumsi energi listrik dunia pada tahun 2018 meningkat sekitar 3.5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dengan kenaikan rata-rata per tahun 3.1% sejak tahun 2000.

Peningkatan konsumsi energi listrik juga terjadi di Indonesia. Pada akhir tahun 2018 terjadi peningkatan sebesar 5.1% dibandingkan dengan tahun 2017, dengan peningkatan rata-rata per tahun sebesar 6.2% sejak tahun 2000.

Namun demikian, sumber energi listrik terbesar masih disuplai oleh pembangkit dengan bahan bakar fosil yaitu batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Penggunaan bahan bakar fosil ini telah memberikan dampak lingkungan dengan adanya pencemaran udara, air, dan dihasilkannya berbagai gas emisi yang menyebabkan gas emisi rumah kaca (global warming).

“Untuk mengurangi kelangkaan bahan bakar fosil yang ketersediannya mulai berkurang, dan untuk mengurangi pencemaran lingkungan, maka pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) perlu diimplementasikan dan dikembangkan,” paparnya.

Dia mengatakan, pembangkit EBT dengan sumber matahari dan angin memberikan emisi CO2 yang paling rendah dibandingkan dengan teknologi pembangkit lainnya.

“Dengan diimplementasikannya pembangkit listrik berbasis EBT, maka kualitas udara dan lingkungan akan semakin baik,” pungkasnya.

Perlu diketahui, Prof Hadi lahir di Pamekasan, 20 Mei 1973. Dia menamatkan pendidikan S1 Teknik Elektro di UB, S2 Teknik Elektro di UGM, dan S3 Electrical Engineering di University of Malaya Kuala Lumpur, Malaysia. Saat ini, dia menjabat sebagai Ketua Jurusan Elektro, FT-UB. (HumasUB/mic)

Leave a Comment

Your email address will not be published.